Tolok Ukur Instagram Stories 2025

Jelajahi tolok ukur terbaru Instagram Stories 2025. Dapatkan insights berharga untuk mengoptimalkan strategi dan meningkatkan engagement dengan audiens kamu.

Elena Cucu
Elena Cucu
Jun 26, 2025

Instagram Stories have changed. In 2025, they’re less about reach and more about retention.

To understand what still works (and what doesn’t), we analyzed 161,180 Stories across follower tiers and formats. This study breaks down how viewer behavior has evolved, from reach and impressions to exits and forward taps.

The result? A clear, data-backed Instagram benchmark report built for social media managers and brand marketers who want to stop guessing and start optimizing.

Langsung mulai saja.

Ringkasan eksekutif

  • Brand yang lebih besar lebih aktif dalam penggunaan Stories.
  • Stories Instagram brand lebih banyak terdiri dari gambar daripada video (56% vs 44%).
  • Sebagian besar keluar terjadi setelah 3 Stories pertama, dan tingkat keluar meningkat dibandingkan tahun 2024.
  • Stories dengan video punya tingkat keluar lebih tinggi dibanding gambar.
  • Pengguna sering ketuk maju, terutama untuk Stories gambar.
  • Pertumbuhan reach Stories terbaik terjadi pada 6 hingga 13 Stories.
  • Stories video menghasilkan reach yang lebih tinggi.
  • Postingan feed mendapatkan reach lebih tinggi daripada Stories.
  • Tanda 10 Stories mencatat kenaikan impressions tertinggi.

Frekuensi posting Stories Instagram

Mari langsung ke intinya – Stories Instagram sudah berbeda sekarang. Dulu, Stories jadi mesin ampuh untuk menemukan audiens baru dan meningkatkan visibilitas. Tapi di 2025, situasinya sudah berubah. Stories bukan lagi andalan utama untuk menarik perhatian baru. Kekuatan utamanya kini ada di retensi dan interaksi berkelanjutan.

They give brands a consistent, direct line to their existing followers. Whether it’s nurturing potential buyers, reinforcing brand loyalty, or staying top of mind during launch cycles, Stories are now a key component of day-to-day brand maintenance.

And frequency plays a critical role. The data clearly shows that brands increase Story volume as their audience grows:

  • 1k – 5k followers → 12 Stories/month (~3 Story per week)
  • 5k – 10k followers → 17 Stories/month (~1 Story every 2 days)
  • 10k – 50k pengikut → 35 Stories/bulan (~1 per hari)
  • 50k – 100k pengikut → 50 Stories/bulan (~2 Stories per hari)
  • 100k – 1M pengikut → 80 Stories/bulan (~3 Stories per hari)

Perkembangan ini bukan sembarangan – ini mencerminkan ekspektasi audiens yang terus berkembang. Saat brand kamu tumbuh, kehadiran Stories jadi semakin penting untuk menjaga relevansi dan kepercayaan.

instagram stories usage benchmarks

Taktik strategis untuk mengoptimalkan frekuensi posting agar audiens tetap tertarik

  • Sesuaikan frekuensi postingan dengan jumlah follower kamu. Posting 12 kali sebulan mungkin cukup untuk 2k follower. Tapi kalau 50k? Itu terlalu sepi. Saat kamu berkembang, tingkatkan juga frekuensinya.

  • Pikirkan alur, bukan hanya cuplikan. When accounts hit the 50+ Stories/month level, it’s rarely just check-ins. They’re telling stories in sequences—polls → product → personality. That’s where real engagement lives.

  • Pentingkan kedalaman, bukan hanya jumlah. Jika reach Story kamu turun, jangan panik. Jadikan itu tanda untuk meningkatkan relevansi. Konten yang tepat untuk orang yang tepat di waktu yang pas. Retensi adalah reach yang baru.

Penggunaan Instagram Stories

Once you’ve nailed how often to post, the next question is just as critical: Jenis Stories apa yang sebaiknya kamu posting?

Data tahun 2025 menunjukkan gambaran jelas tentang distribusi format di seluruh akun brand:

  • Gambar → 57%
  • Video → 43%

Jadi, kenapa gambar masih lebih dominan?

Pertama, gambar lebih mudah diskalakan. Brand yang memposting 80 Stories per bulan biasanya mengandalkan visual template untuk menjaga konsistensi. Untuk akun kecil, Stories berbasis gambar jadi cara aman untuk tetap aktif tanpa produksi besar-besaran.

Namun, brand yang mendapatkan interaksi paling bermakna justru memilih keseimbangan. Mereka tidak hanya berganti format, tapi memilih format sesuai tujuan.

Pengumuman cepat? Gunakan gambar.

Product demos, behind-the-scenes moments, or UGC takeovers? Always video.

instagram stories usage patterns

Taktik strategis untuk membuat strategi posting Stories yang lebih baik

  • Urutan itu penting. Kombinasi format yang bagus seperti ini: slide gambar untuk menarik perhatian → video singkat menambah kedalaman → polling atau stiker untuk interaksi. Alur seperti ini bikin orang terus tap, bukan keluar.

  • Biarkan format mendukung pesan. Tidak semua postingan butuh gerakan. Kalau hanya pembaruan sederhana, pilih gambar. Tapi jika butuh energi, kepribadian, atau penjelasan, gunakan video.

  • Jangan terlalu memikirkan video. Kamu tidak perlu studio khusus. Stories yang terasa santai dan nyata sering kali hasilnya lebih baik daripada yang terlalu diproduksi. Ambil ponselmu, bicara ke kamera, buat singkat.

Benchmark tingkat keluar Stories

Mari bahas tingkat keluar—mungkin metrik paling jujur dalam performa Stories Instagram kamu. Ini bukan sekadar soal siapa yang menonton. Ini memberi tahu kamu kapan mereka pergi. Dan di situ? Di sanalah insight sebenarnya tersembunyi.

Dengan menganalisis tingkat keluar pada rangkaian Stories Instagram berturut-turut dari 1 hingga 15, pola perilaku yang jelas muncul. Inilah yang kami temukan:

1–3 Stories: Zona drop-off paling krusial

  • Exit rate starts at 23.8% on the first Story.
  • Drops to 20.5% on the second, and 18.5% by the third.
  • This is the point of highest viewer loss—nearly one in four viewers exit after slide one.
  • Kalau kamu tidak langsung menarik perhatian, audiensmu kemungkinan besar tidak akan lanjut.

4–9 Stories: Rentang retensi stabil

  • Tingkat keluar terus menurun secara bertahap: 15,7% di slide 4, turun ke 13,3% di slide 9.
  • Rentang ini menunjukkan retensi penonton yang kuat. Begitu pengguna tertarik, mereka jauh lebih mungkin untuk terus menelusuri seluruh rangkaian Stories.

10–15 Stories: Fase penurunan kedua

  • Meskipun tidak setajam penurunan awal, ini menunjukkan titik kelelahan di mana penonton mulai kurang tertarik lagi.

Pada Story ke-15, tingkat keluar sekitar 12,5%.

instagram stories exit rates benchmarks

Selain itu, kami melihat kenaikan jelas pada tingkat keluar di semua lini di 2025. Ini menunjukkan banyak perubahan perilaku audiens.

Pada tahun 2024, exit rate di Stories terus menurun saat kamu membagikan lebih banyak slide. Pesannya jelas: semakin banyak nilai yang kamu tawarkan, semakin lama orang bertahan. Namun di 2025? Polanya berubah. Audiens lebih tidak sabar—dan jauh lebih selektif.

Pengikut akun

Exit rate untuk image Stories

Exit rate untuk video Stories

1–5K

12,82%

13,42%

5-10K

15,52%

13,70%

10–50K

9.30%

10.50%

50-100K

7.70%

8.60%

100K-1M

8,30%

8,70%

Banyak yang bilang video adalah raja di social media. Dan memang, video punya tempat tersendiri. Tapi untuk Instagram Stories, data menunjukkan cerita yang lebih seimbang.

Kami menganalisis rata-rata tingkat keluar berdasarkan format—gambar vs. video—pada berbagai jumlah follower. Dan jujur saja? Perbedaannya sangat kecil.

exit rate by story format

Taktik strategis untuk meningkatkan retensi.

  • Prioritaskan tiga slide pertama. Tingkat keluar tertinggi terjadi di awal. Jadikan slide pembuka sebagai yang paling penting. Gunakan desain visual yang kuat, konteks yang langsung, atau narasi menarik untuk meningkatkan retensi secara signifikan.

  • Gunakan slide 4–9 untuk membangun kedalaman.This mid-section holds the most stable engagement. It’s the ideal window for storytelling, product education, or layered messaging. This is where your audience is most open to detailed content.

  • Perkuat engagement setelah slide 10. Setelah slide 9, penonton mulai merasa lelah. Tambahkan interaksi seperti polling, pertanyaan, atau ubah format untuk menarik kembali perhatian mereka dan jaga momentum sampai akhir.

  • Fokus pada relevansi sebelum format. Kalau kontenmu tidak terasa tepat waktu atau bermanfaat, format apa pun tidak akan membantu. Slide statis dengan hook kuat selalu lebih efektif dari video yang lambat dan tidak jelas.

  • Gunakan keduanya untuk menciptakan ritme alami. Terlalu banyak slide statis terasa datar. Terlalu banyak video terasa berat. Campurkan keduanya agar Stories kamu punya tempo, variasi, dan struktur. Ini juga bantu kurangi kelelahan penonton pada rangkaian yang lebih panjang.

Benchmark tingkat tap-forward Stories

Tap-forwards are one of those metrics that seem simple at first - someone tapped to move to the next Story, right? But in reality, it’s one of the most revealing signals of Story quality and pacing.

Kami menganalisis tingkat tap-forward berdasarkan format (gambar vs video) di berbagai tier pengikut. Hasilnya, video lebih mampu menarik perhatian dibandingkan gambar statis.

Pengikut akun

Tingkat tap-forward untuk Stories gambar

Tingkat tap-forward untuk Stories video

1–5K

56,82%

50,50%

5-10K

66,72%

52,30%

10–50K

63.70%

56.00%

50-100K

63.58%

62.00%

100K-1M

66.00%

58.00%

stories tap forward benchmarks

Taktik strategis untuk menurunkan tingkat tap-forward kamu.

  • Gunakan video untuk mengurangi skimming, terutama pada akun kecil. Pada akun dengan kurang dari 10.000 pengikut, slide video selalu tampil lebih baik dari gambar. Video memperlambat penonton, membuat mereka lebih lama memperhatikan, dan memperkuat kehadiran brand kamu.

  • Pacing lebih penting daripada format di level menengah. Dari 10k–50k pengikut, video masih unggul, tapi tidak terlalu jauh. Artinya, bukan hanya apa yang kamu pakai, tapi seberapa cepat Story kamu bergerak. Intro yang terlalu lama, klip lambat, atau teks terlalu padat akan mendorong tap ke depan, bahkan pada video.

  • Uji urutan format campuran untuk menemukan alur kamu. Mulai dengan video yang menarik, lanjutkan dengan CTA gambar. Atau pecah video panjang menjadi beberapa slide. Rasio tap-forward bukan soal pilih satu format saja, tapi soal membangun urutan yang mengundang tap berikutnya.

Benchmark reach Instagram Stories

Kita semua tahu reach itu penting. Ini adalah bagian teratas dari funnel. Undangannya. Jika orang tidak melihat Stories kamu, tidak ada yang benar-benar berhasil—tidak ada polling, swipe-up, atau CTA yang kreatif.

Pertanyaannya adalah: butuh berapa Stories di 2025 agar benar-benar terlihat? Dan yang lebih penting: bagaimana perubahannya dibanding tahun lalu?

Mari kita kupas lebih lanjut.

Di 2024, reach lebih linear. Semakin banyak kamu posting, semakin terlihat. Cukup sederhana. Tapi di 2025, situasinya berubah. Bagian tengah urutan sekarang jadi zona reach terkuat. Posting terlalu sedikit atau terlalu banyak malah bisa membatasi exposure.

  • Tingkat reach naik dari 6,3% di slide 1 menjadi 20,5% di slide 6.
  • Sweet spot ada di antara 6 sampai 13 Stories, di mana reach naik terus dan bahkan mencapai puncak 37,8% pada slide ke-13.
  • Tapi setelah itu? Ada penurunan yang jelas—dari 37,8% pada slide ke-13 menjadi 31,4% di slide ke-14, dan 37,1% di slide ke-15. Penurunan ini tidak terjadi di tahun 2024.
stories reach benchmarks

Kita sudah lihat jumlah Stories yang kamu posting mempengaruhi rate reach. Tapi ada faktor lain yang ikut berperan: ukuran follower dan format Stories—dan pengaruhnya lebih besar dari yang banyak orang kira.

Ini cara rate reach berbeda di setiap tingkat audiens, dan bagaimana formatnya (gambar vs video) mempengaruhi performa:

Pengikut akun

Tingkat reach untuk Stories gambar

Tingkat reach untuk Stories video

1–5K

9.55%

10.40%

5-10K

3.50%

4.20%

10–50K

1.35%

2.00%

50-100K

0,55%

0,65%

100K-1M

0,50%

0,65%

Trennya sangat jelas: Semakin banyak pengikut yang kamu punya, semakin sulit menjangkau semuanya—terutama lewat Stories.

Meskipun penurunannya tajam, satu hal tetap konsisten: video selalu mengungguli konten gambar di setiap level.

stories vs feed reach

Ingat saat Stories jadi tempat utama untuk tampil? Di 2025, itu sudah tidak berlaku lagi.

Stories tetap jadi alat yang kuat untuk engagement dan membangun kepribadian brand. Tapi, Stories sudah kehilangan keunggulan soal reach. Terutama jika dibandingkan dengan postingan di feed. Saat kami menganalisis tingkat reach di berbagai tier pengikut, perbedaannya sangat mencolok.

Pengikut akun

Tingkat reach untuk postingan feed

Tingkat reach untuk Stories

1–5K

4.00%

3.30%

5-10K

3.40%

1,50%

10–50K

3,70%

0,60%

50-100K

3,00%

0,30%

100K-1M

2,50%

0,25%

Taktik strategis dan cara meningkatkan angka reach Stories kamu

  • Posting minimal 6 Stories per hari untuk tingkatkan visibilitas. Stories yang hanya 1–3 slide akan kehilangan reach. Kalau tujuanmu visibilitas, mulai posting 6+ slide per hari. Kontenmu tidak harus spektakuler—bisa produk, Q&A singkat, testimoni, atau polling cepat. Yang penting, hadir secara konsisten dengan variasi.

  • Audit alur harian kamu dan perbaiki pola yang performanya rendah. Lihat di mana urutan kamu saat ini cenderung menurun. Apakah kamu kehilangan audiens sebelum slide ke-5? Perbaiki hook. Apakah slide terakhir kamu kurang maksimal? Potong saja. Setelah itu, uji ulang dengan alur yang lebih singkat dan fokus. Lacak perubahan reach selama seminggu.

  • Berhenti sebelum slide ke-14—kecuali memang kontennya butuh lebih banyak. Reach mulai turun setelah slide ke-13 di tahun 2025. Kalau kamu biasa posting 14 atau 15 Stories karena kebiasaan, coba kurangi jadi 12 dan bandingkan reach-nya. Pakai urutan lebih panjang hanya jika kamu meluncurkan sesuatu yang besar atau menceritakan kisah penting—dan pastikan tetap padat.

  • Diversifikasikan format kamu untuk melawan penurunan reach. Kalau kamu hanya memakai slide statis, kemungkinan kamu melewatkan dorongan ekstra dari video. Satu atau dua slide video dalam urutan bisa mendorong konten kamu lebih jauh di antrean Stories.

  • Gunakan postingan feed untuk menjangkau audiens kamu – gunakan Stories untuk mempertahankan mereka.Feed content is now your primary reach engine. If you're trying to get seen, use posts, Reels, and carousels. Once someone follows or engages, use Stories to build trust, encourage interaction, and move them toward action.

Benchmark impressions Instagram Stories

Kalau reach memberi tahu siapa yang melihat Story kamu, impressions menunjukkan siapa yang bertahan — atau kembali lagi untuk melihat lebih banyak. Di sinilah kita bisa mengukur minat yang sebenarnya. Apakah konten kamu cukup engaging sampai orang mau berhenti sejenak? Menonton ulang? Tap kembali, bukan lanjut?

Yuk, lihat bagaimana tingkat impressions Instagram Stories berubah dari 2024 ke 2025, berdasarkan berapa banyak Stories yang diposting dalam satu hari:

stories impressions benchmarks

Sekilas, 2025 tampak lebih unggul dibanding 2024, terutama pada urutan pendek dan menengah. Dari slide 1 hingga slide 6, impressions terus meningkat. Artinya, orang tidak hanya melihat Stories kamu — mereka makin sering berinteraksi dan kembali lagi.

Tapi setelah titik tengah itu?

  • Impressions 2025 mulai mendatar di sekitar slide 7–8
  • Impressions bahkan sedikit turun di bawah 2024 pada slide 9–10
  • Lalu melonjak tajam di slide 13 – mencapai rekor baru 40,0%, lebih tinggi dari titik mana pun di 2024

Jadi, apa yang terjadi di sini?

Sepertinya perhatian makin singkat, namun hasil datang secara tiba-tiba. Audiens menghargai jalannya Story yang terstruktur dengan baik dan layak diikuti. Namun mereka kurang memaafkan isi pengisi waktu atau bagian yang terlalu lambat.

Temukan insights strategis untuk meningkatkan impressions kamu

  • Slide CTA adalah magnet impressions terbaik jika kamu menempatkannya dengan tepat. Slide dengan ajakan jelas ("Balas untuk voting", "Ketuk link", "Kirim pendapatmu") sering diputar ulang karena audiens ragu atau ingin kembali nanti. Tempatkan secara strategis di tengah atau mendekati akhir urutan, jangan di slide terakhir.

  • Desain untuk waktu tonton, bukan sekadar penyelesaian. Algoritma Instagram lebih menyukai konten yang mampu menahan perhatian, bahkan dalam beberapa tampilan. Artinya, ritme visualmu penting: selingi slide cepat dengan momen lebih lambat yang fokus pada teks, atau perbesar keluar untuk memberi konteks di antara close-up. Semakin lama orang menghabiskan waktu di Story kamu, makin besar peluang Story itu muncul lagi.

  • Buat slide rangkuman yang bikin penonton kembali. Rangkuman poin, daftar cepat, atau rincian harga—slide seperti ini lebih sering ditonton ulang karena bermanfaat. Orang akan kembali untuk referensi. Tempatkan di akhir urutan slide untuk menaikkan impressions sebelum titik penurunan.

Metodologi

The findings of this study are based on the analysis of 161,180 Instagram Stories posted by active brands within the timeframes January - May 2025 and January-May 2024. 

Thetingkat keluar refers to the percentage of viewers who leave your Story sequence entirely from a specific slide—meaning they swipe away, close the app, or tap out to another account. It is calculated using this formula: number of exits on a slide divided by the total views on a slide and multiplied by 100.

Tap-forward-rate adalah persentase penonton yang mengetuk untuk pindah ke slide Story berikutnya tanpa keluar atau melakukan engagement dengan slide saat ini. Dihitung dengan rumus: jumlah forward-taps dibagi total tampilan lalu dikali 100.

Tingkat reach Stories adalah persentase dari total follower kamu yang melihat setidaknya satu slide di rangkaian Story kamu. Dihitung dengan rumus: jumlah penonton dibagi total follower lalu dikali 100.

Tingkat impressions Stories adalah persentase dari total pengikut kamu yang melihat setidaknya satu slide di rangkaian Story kamu. Hitungannya dengan rumus: total impressions dibagi total pengikut lalu dikalikan 100.

Dapatkan insights performa Stories secara mendalam

Lakukan analisis menyeluruh Instagram Stories dan dapatkan ide optimasi strategi!

Siap tingkatkan strategi social media kamu dengan insights real-time?

Dapatkan wawasan strategis. Analisis performa sosial di semua channel. Bandingkan metrik dari periode berbeda dan unduh laporan hanya dalam hitungan detik.